
Idul Adha 1429H di Armidale kami rayakan di UNE Mosque pada hari Senin, 8 Desember 2008. Sesudah salat subuh dini hari itu, saya langsung bersiap ke masjid untuk menunaikan salat Id pada pukul 7.30. Saya memutuskan mengenakan kemeja batik, karena saya yakin brothers and sisters dari berbagai negara di Armidale juga akan mengenakan pakaian tradisional mereka. Lima menit sebelum pukul 7, Dr Zifirdaus Adnan, supervisor saya dan pemuka masyarakat Indonesia dan umat Islam Armidale, menjemput saya dengan mobilnya dan kami meluncur ke masjid dalam suasana pagi yang sangat sejuk dan matahari yang mulai menari-nari di ufuk Timur. Dr Adnan terlihat sangat rapi dalam balutan busana resmi, lengkap dengan dasi, jaket panjang (coat) dan peci Aceh.
Setibanya kami di masjid, terlihat beberapa brothers sedang menyiapkan terpal plastik sebagai penutup rerumputan di luar masjid yang menjadi lokasi salat Id. Sayapun segera menyingsingkan lengan baju membantu menggelar terpal itu dan membersihkannya dari debu. Brothers yang lain menyiapkan pengeras suara dan meja tempat makanan. Kaum hawa yang datang kemudian meletakkan makanan dan minuman ala kadarnya di meja di bawah pohon tak jauh dari tempat salat.
Tepat pukul 7.45 (terlambat 15 menit dari jadwal yang disepakati), salat Id dimulai. Dr Adnan bertindak sebagai imam dengan alunan suara mengaji khas orang Melayu - mendayu-dayu dan syahdu, memimpin jamaah yang ternyata tidak terlalu banyak jumlahnya tahun ini. Mungkin banyak brothers and sisters yang sudah 'pada kabur' setelah berjuang semester ini dan memanfaatkan liburan Natal.
Selesai salat, Dr Adnan melanjutkan tugasnya sebagai khatib. Beliau menekankan pentingnya umat Islam meneladani ketakwaan Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Kepada para mahasiswa Muslim di UNE, beliau menyerukan agar 'melakukan kurban', antara lain dengan berjuang menghindari segala bentuk maksiat yang ada dan selalu menggoda kaum Muslim di tengah-tengah masyarakat Barat seperti di Armidale ini. Beliau juga mengingatkan pentingnya kaum Muslim di rantau ini memperhatikan nasib kaum Muslim di berbagai belahan dunia yang, menurut Dr Adnan, dapat menjadi korban paling parah dari krisis ekonomi dunia saat ini.
Selesai salat, kami bersalaman satu sama lain. Selain berjabatan tangan, rupanya brothers dari negara-negara Timur Tengah punya cara yang cukup menarik: mereka merangkul kita tiga kali, dari kanan, ke kiri, dan ke kanan lagi, dengan metode cipika-cipiki ditingkahi bunyi bibir yang mirip suara bayi mengisap dot...pset-pset-pset. Tak lupa kalimat "Assalamu'alaikum. Eid mubaarak, brother" meluncur dari bibir mereka yang terselip di antara kumis dan janggut cukup lebat. Setelah melakukan ritual yang mirip aktivitas Teletubbies itu, kami bergerak ke meja yang dipenuhi makanan dan minuman hasil bring a plate kaum hawa. Agak aneh juga mencicipi salah satu hidangan yang ada: nasi kuning berminyak dengan rasa susu, kayu manis, dan gula! Karena kaget dengan sensasinya, saya lupa menanyakan apa nama masakan Timur Tengah ini. Seperti biasa, semua kegiatan kami ini turut diramaikan dengan bunyi jepretan kamera berbagai jenis, mengabadikan kegembiraan semua yang hadir.
Sekitar pukul 8.30, kami merapikan dan membersihkan kembali tempat salat, melipat sandaran kursi...eh melipat terpal...dengan rapi dan mengembalikan semua peralatan ke garden shed di samping masjid. Karena hari itu hari kerja, yang bekerja sebagai dosen, seperti Dr Adnan, dan kami mahasiswa yang tidak libur karena riset PhD atau Master by Research, bergerak menuju ruang kerja masing-masing sebelum waktu mulai kerja pukul 9. Tidak jelas siapa yang mengurus hewan kurban (tapi saya yakin ada brothers yang sudah menanganinya). Teman-teman lain seperti Pak Ramal dari Untad Palu (lihat foto kami di samping), ketika saya tanya "Mau ke office juga?", dengan santai menjawab dalam logat Melayu-Palu yang kental: "Ah, mau puulang tiidur laagi."
Foto: Brothers sedang cipika-cipiki dan berangkulan dalam suasana Idul Adha.
Setibanya kami di masjid, terlihat beberapa brothers sedang menyiapkan terpal plastik sebagai penutup rerumputan di luar masjid yang menjadi lokasi salat Id. Sayapun segera menyingsingkan lengan baju membantu menggelar terpal itu dan membersihkannya dari debu. Brothers yang lain menyiapkan pengeras suara dan meja tempat makanan. Kaum hawa yang datang kemudian meletakkan makanan dan minuman ala kadarnya di meja di bawah pohon tak jauh dari tempat salat.
Tepat pukul 7.45 (terlambat 15 menit dari jadwal yang disepakati), salat Id dimulai. Dr Adnan bertindak sebagai imam dengan alunan suara mengaji khas orang Melayu - mendayu-dayu dan syahdu, memimpin jamaah yang ternyata tidak terlalu banyak jumlahnya tahun ini. Mungkin banyak brothers and sisters yang sudah 'pada kabur' setelah berjuang semester ini dan memanfaatkan liburan Natal.
Selesai salat, Dr Adnan melanjutkan tugasnya sebagai khatib. Beliau menekankan pentingnya umat Islam meneladani ketakwaan Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail. Kepada para mahasiswa Muslim di UNE, beliau menyerukan agar 'melakukan kurban', antara lain dengan berjuang menghindari segala bentuk maksiat yang ada dan selalu menggoda kaum Muslim di tengah-tengah masyarakat Barat seperti di Armidale ini. Beliau juga mengingatkan pentingnya kaum Muslim di rantau ini memperhatikan nasib kaum Muslim di berbagai belahan dunia yang, menurut Dr Adnan, dapat menjadi korban paling parah dari krisis ekonomi dunia saat ini.
Selesai salat, kami bersalaman satu sama lain. Selain berjabatan tangan, rupanya brothers dari negara-negara Timur Tengah punya cara yang cukup menarik: mereka merangkul kita tiga kali, dari kanan, ke kiri, dan ke kanan lagi, dengan metode cipika-cipiki ditingkahi bunyi bibir yang mirip suara bayi mengisap dot...pset-pset-pset. Tak lupa kalimat "Assalamu'alaikum. Eid mubaarak, brother" meluncur dari bibir mereka yang terselip di antara kumis dan janggut cukup lebat. Setelah melakukan ritual yang mirip aktivitas Teletubbies itu, kami bergerak ke meja yang dipenuhi makanan dan minuman hasil bring a plate kaum hawa. Agak aneh juga mencicipi salah satu hidangan yang ada: nasi kuning berminyak dengan rasa susu, kayu manis, dan gula! Karena kaget dengan sensasinya, saya lupa menanyakan apa nama masakan Timur Tengah ini. Seperti biasa, semua kegiatan kami ini turut diramaikan dengan bunyi jepretan kamera berbagai jenis, mengabadikan kegembiraan semua yang hadir.
Sekitar pukul 8.30, kami merapikan dan membersihkan kembali tempat salat, melipat sandaran kursi...eh melipat terpal...dengan rapi dan mengembalikan semua peralatan ke garden shed di samping masjid. Karena hari itu hari kerja, yang bekerja sebagai dosen, seperti Dr Adnan, dan kami mahasiswa yang tidak libur karena riset PhD atau Master by Research, bergerak menuju ruang kerja masing-masing sebelum waktu mulai kerja pukul 9. Tidak jelas siapa yang mengurus hewan kurban (tapi saya yakin ada brothers yang sudah menanganinya). Teman-teman lain seperti Pak Ramal dari Untad Palu (lihat foto kami di samping), ketika saya tanya "Mau ke office juga?", dengan santai menjawab dalam logat Melayu-Palu yang kental: "Ah, mau puulang tiidur laagi."
Foto: Brothers sedang cipika-cipiki dan berangkulan dalam suasana Idul Adha.

No comments:
Post a Comment